Aviation, My Life, Travel

(Hanya) Tiga Hari Dua Malam di Sentani, Jayapura

“Sebuah kisah perjalanan yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup adalah ketika kita melakukan perjalanan ke suatu tempat yang dipandang kecil di mata orang, tetapi memiliki kebesaran keindahan tak terkira yang tidak pernah mereka lihat – mengajarkan kita sebuah arti hidup, lepas dari Comfort Zone,” – Kleopas Danang.

Perjalanan saya kali ini menuju sebuah ibu kota yang terletak di ufuk timur Indonesia, yang dahulu kala menjadi sengketa antara Pemerintah Belanda dan Republik Indonesia – Jayapura atau dahulu yang dikenal dengan nama Hollandia – selama 3 hari 2 malam.

Sebenarnya tidak ada persiapan khusus bagi saya, dan tidak pernah terlintas dipikiran saya untuk mengunjungi pulau yang dikenal memiliki kekayaan mineral dan sumber daya alam lainnya. Seminggu sebelumnya, kedua orang tua saya memastikan bahwa mereka akan berangkat ke Jayapura guna menghadiri acara pernikahan anak dari kerabat keluarga kami yang menetap di Jayapura. Ayah saya mengajak saya untuk ikut ke Jayapura, selain menambah pengalaman perjalanan di Indonesia, setidaknya untuk tidak memutus tali silaturahmi dengan keluarga yang tinggal jauh dari kami. Ibu saya pun sangat senang dan tidak sabar untuk pergi ke Sentani, Jayapura, karena dahulu pada tahun 1984 – 1986, Ayah dan Ibu saya sempat tinggal di Sentani, Jayapura, dan mereka ingin menggunakan moment ini untuk nostalgia dan memperkenalkan kepada saya tempat mereka tinggal dahulu kala.

Seminggu sebelum perjalanan, saya membaca informasi tentang Jayapura, Sentani dan sekitarnya. Saya pun melihat wujud dari berbagai macam pantai dan pemandangan spektakular yang ada disana, namun daerah ini masih belum sangat popular di mata orang Indonesia sendiri. Kemungkinan ada banyak mengapa demikian, salah satunya adalah letak dari Jayapura sendiri yang sangat jauh dari Jakarta atau kota – kota di Jawa lainnya yang menjadi pusat dari kegiatan pemerintahan dan bisnis di Indonesia. Saking tidak sabarnya, saya sempat bilang ke Ayah saya kalau moment ini saya ingin gunakan untuk mengelilingi Indonesia, sehingga kami sengaja tidak memilih penerbangan langsung namun saya memilih untuk terbang melalui Makassar dan Biak – serta rute pulang melalui Timika dan Denpasar.




Pada hari Jumat pagi, tanggal 30 September 2011, pesawat yang saya tumpangi akhirnya mendarat di Bandara Udara Sentani di Jayapura. “Finally,” ucap saya sesaat pesawat Garuda Indonesia GA 650 mendarat mulus di Sentani. Perjalanan sudah kami tempuh selama kurang lebih 7 jam termasuk waktu transit, atau 5 jam 30 menit waktu di udara. Apabila saya hitung – hitung jam terbang bersihnya sama seperti terbang ke Shanghai langsung dari Jakarta. Pagi itu, cuaca di Sentani hujan. Rupanya sudah memasukki musim penghujan di Sentani, cuaca berawan dan suhu 24 derajat celcius. Dari ketinggian, saya sudah melihat Gunung Cyclops, dan Danau Sentani yang secara langsung telah membuat saya terpesona. “How great thou art”.

Danau Sentani adalah danau terbesar di Papua. Menurut sejarahnya, danau ini dahulu kala menjadi satu dengan samudra pasifik, namun karena pergeseran lempeng danau ini akhirnya terpisah menjadi sebuah danau tersendiri. Danau ini sangat jernih terlihat, warna laut yang membiaskan sinar matahari membuat warna danau ini menjadi sedikit terlihat keperakan, dan Gunung Cyclops yang notabene diberi nama Cyclops oleh Mc Arthur (panglima perang dunia ke II) karena bentuknya terlihat seperti raksasa yang sedang tidur dari kejauhan.


Begitu menuruni pesawat, udara segar tersentak di hidung saya, dan saya pun menghirup napas panjang. What a fresh air! kemudian kami pun berjalan menuju terminal bandara untuk mengambil barang bawaan kami. Sebelumnya paman saya sudah menjemput kami semenjak dari apron dan menghantarkan kami ke dalam. Begitu memasuki terminal kedatangan rupanya bandara ini tidak menyediakan trolley gratis. Rupanya semua trolley sudah menjadi milik porter bandara ini. Alhasil kami harus menyiapkan uang tip untuk mereka.

Kami pun meninggalkan Bandara, dan kami dihantar langsung menuju tempat peristirahatan kami di Hotel Sentani Indah, yang terletak kurang lebih 15 menit dari Bandara dan berada di kawasan Danau Sentani. Kami memutuskan untuk tinggal di kawasan Sentani bukan di Jayapura, dikarenakan agar tidak terlalu jauh dari acara pernikahan yang akan kami hadiri nanti. Hotel Sentani Indah merupakan salah satu hotel terbesar di Papua, yang bertemakan Resort and Convention.

Salah satu kantor pemerintahan di Sentani

Salah satu bentuk rumah warga Sentani

Hotel Sentani Indah

Hotel ini dimiliki oleh Merpati Nusantara Airlines yang didirikan semenjak tahun 2000. Hotel ini memiliki konsep yang baik, namun tidak terawat dengan baik. Saya sebenarnya sempat khawatir akan kebersihan hotel ini terutama melihat banyak sekali pohon dan rumput di hotel ini membuat saya khawatir akan Malaria.  Untuk kebersihan kamar, Hotel ini dapat dibilang baik, dan ukuran kamar yang lapang dan besar membuat keleluasaan lebih nyaman. Namun, tidak ada layanan parabola, bahkan sinyal TV kresek-kresek, dan kamar yang lumayan pengap saat AC mati. Serba salah, mau buka jendela tapi tidak ada kasa nyamuk, dan takutnya nyamuk macem – macem masuk kamar, mau tidak dibuka tetap harus ditutup dan AC dalam kondisi menyala.

Saking padatnya jadwal kami, sehingga mengharuskan kami untuk jalan – jalan pada hari itu. Kami memutuskan untuk tidur sebentar selama 2 jam, karena saya hanya tidur ayam di pesawat malamnya, dan begitu kami bangun, Mas Arya, seorang karyawan kelistrikan bandara yang dahulu adalah anak buah Pakde saya menjemput kami untuk mengantar melihat kota Jayapura dengan menempuh waktu 1 jam perjalanan. Selama di perjalanan ngantuknya luar biasa. Ya ampun, saya tidak pernah jet lag sebelumnya, kok ya ke Jayapura malah jet lag. Apa karena tidak tidur nyenyak di pesawat? apa karena setiap 2 jam take off dan landing? Untuk menempuh Jayapura, rute yang ditempuh melewati beberapa distrik seperti Abepura, Entrop, Hamadi, lalu Jayapura. Apabila anda ingin pergi ke Jayapura dengan menggunakan angkutan umum dari Jayapura, lebih baik menggunakan taksi, kalau takut naik taksi sendirian, naik angkutan umum bisa, tapi harus ganti 5 angkutan di setiap terminal dan memakan waktu lebih dari satu jam.

Gedung Rektorat Universitas Cenderawasih, Abepura

Museum Papua

Perjalanan yang tadinya saya hanya bisa dengar dari sepupu – sepupu saya yang sering ke Papua dapat saya rasakan. Perjalanan Sentani – Jayapura ini sangat berkelok – kelok dan belum lagi patahan – patahan tajam di sepanjang jalan, namun pemandangan Danau Sentani tidak pernah membosankan. Jadi pertama kit melihat pemandangan danau, begitu sampai Abepura dan Enthrop pemandangan teluk Jayapura dan Laut lepas pasifik pun menyambut kami. Sepertinya landmark terrain dari pada Jayapura sendiri mirip seperti Rio de Janerio di Brazil. Saya belum pernah sih kesana, tetapi kalau saya bandingkan dengan Rio de Janerio di Brazil atau Cape Town di South Africa, sepertinya agak mirip.


Nah begitu memasuki kota Jayapura, anda akan melihat neon lights Jayapura City yang berada di bukit dekat pantai. Neon lights Jayapura City diatas sana bisa dikunjungi apabila anda ingin melihat kota Jayapura dari atas bukit, saya tidak memutuskan kesana karena cuaca mendung dan jalan basah sehingga cukup licin, belum lagi perjalanan yang cukup lama untuk sampai ke atas. Kota Jayapura sendiri sangat kecil, apabila dibandingkan dengan Sentani dan Abepura, kota Jayapura sangat ringkih karena letaknya diapit bukit dan laut. Di Jayapura terkenal dengan nama daerah yang dinamakan ‘Dok’. Karena Jayapura adalah kota teluk dan pelabuhan, dinamai Dok karena diambil dari bahasa inggris “Dock” tempat kapal berlabuh. Jayapura hanya memiliki satu gedung tertinggi, yakni Gedung Bank Papua, 7 lantai, dan diyakini kalau Gedung ini adalah Gedung tertinggi di Papua. Jayapura terletak di dataran rendah, sama dengan laut, namun distrik – distrik yang mengapitnya seperti daerah Dok 2, Angkasa, dan sekitarnya harus ditempuh dengan jalan yang berkelok – kelok.


Gedung KFC dan Gelael yang terkenal di Jayapura

Mas Arya membawa kami ke daerah Angkasa untuk melihat kota Jayapura dari berbagai sisi. Selama perjalanan menanjak yang cukup curam, kami berhenti sebentar di observation spot pertama untuk melihat kota Jayapura, dan teluk Yofeta. Pemandangan Indah, belum lagi udara sejuk menyambut kami. Ada sebuah kejadian di tempat ini, yaitu ketika saya hendak menghampiri sebuah tempat berkumpul yang dimiliki oleh sebuah keluarga papua asli, yang dimana saya dapat mendapatkan foto pemandangan. Ada seorang Ibu dengan 2 anak kecilnya, yang dimana satu anak ini nangis – nangis karena meminta sesuatu. Namun Ibu anak ini sepertinya tidak sabar menghadapi anak kecil ini, lalu dia pun memukul anak ini sampai jatuh ke tanah berkali-kali ditampar pula. Kami sangat trenyuh melihat situasinya, kasihan dengan mental anak kecil tersebut. Mas Arya menjelaskan kepada kami, kalau masyarakat asli Papua itu terkadang sangat kasar. Tidak semua memang, tetapi mayoritas seperti masyarakat pedalaman Papua (Yang biasa disebut ‘Noge’) memang sangat frontal dan tanpa basa basi. Kemudian saya berpikir, sama anak aja begini, kalau suami istri berantem seperti apa ya?, katanya “Wah lebih parah lagi mas, saya pernah lihat kejadian suami istri pukul-pukulan dan gampar – gamparan,” saya pun diam sejenak.

Mohon maaf sekali lagi saya tidak bermaksud membuat stereotype tetapi setiap orang memiliki karakter berbeda – beda dan saya percaya tidak semua orang asli Irian seperti itu.

Tidak lama kemudian, kami memutuskan untuk pergi ke atas, ke daerah Angkasa untuk melihat pemandangan kota Jayapura, Teluk Yofeta, dan Samudra Pasifik dari sebelah barat. Sangat luar biasa! Saya benar – benar suka tempat ini, jadi terdapat sebuah lahan yang diratakan, tidak tahu untuk apa, namun dari sini kita bisa melihat semuanya. Di daerah Angkasa ini terdapat beberapa rumah elit seperti pejabat pemerintahan, dan tidak jauh dari lokasi saya terdapat jalan menurun ke bawah sedikit merupakan kompleks karyawan Bank Mandiri yang sudah saya duga pasti menghadap ke laut, dan ternyata pun benar, beberapa rumah memiliki pemandangan ke laut, tak tanggung – tanggung, Laut Pasifik.

Hotel Swiss Belhotel Jayapura menghadap ke Laut

Waktu sudah menunjukkan hari semakin sore, dan kami memutuskan untuk kembali ke hotel, sebelum gelap. Dalam perjalanan kembali ke hotel, rupanya terdapat sebuah masalah. Kami mengambil jalur lain melewati teluk Yofeta dan memotong jalan sampai ke Sentani – Jayapura bypass, dan sebelum sampai ke jalan bypass, kami sedikit terhadang oleh sekumpulan orang mabuk, (literally drunk) yang meminta uang di jalan, dengan menghadang mobil yang lewat. Situasi cukup terhambat saat itu, kami bertanya ke setiap orang yang lewat mereka bilang “ada orang mabuk, putar saja,” sehentak saya yang masih ngantuk saat itu langsung bangun. Ibu saya terlebih juga langsung bangun dan khawatir, Bapak saya yang duduk di depan dengan santai bilang “udah nanti kalo di berhentiin tabrak aja,”. Suasana cepat diselesaikan untungnya, dan kami bisa lewat. Ternyata kebiasaan seperti ini sudah ada sejak dahulu ketika Bapak dan Ibu saya masih tinggal disini.


Sebelum kembali ke hotel, saya berhenti sejenak di Sentani Trade Square, salah satu pusat perbelanjaan di Sentani. Sama seperti layaknya ITC disini para penduduk dapat membeli kebutuhan pokok, berbelanja, dan makan bakso. Bakso, kenapa saya menyebut bakso? rupanya masyarakat Papua senang juga makan bakso dan makanan Jawa lainnya. Namun ada satu hal lagi kejanggalan yang saya temukan. Pada saat menunggu mobil, saya melihat ada seorang Bapak Noge, menggendong anaknya tertawa – tawa, tanpa mengenakan alas kaki, tapi mereka tidak telanjang, lalu seorang satpam, seorang pendatang mengusirnya secara halus. Mengapa harus seperti itu? bukankah itu akan membuat mereka merasa terintimidasi?

Hari Kedua: All around Sentani

Pemandangan dari kamar saya

Wajib!

Pada hari kedua ini, kami dijadwalkan untuk menghadiri acara perkawinan di Sentani. Dan sepertinya kami akan menghabiskan waktu dari pagi hari hingga siang hari disini. Saya sudah bangun dari jam 05.30 WIT (03.30 WIB) dan tidak bisa tidur. Saya memutuskan untuk jogging, atau berjalan keliling hotel. Pemandangan dari jendela kamar saya adalah bukit di sekitar Sentani, kabut masih rendah, dan udaranya masih fresh. Saya berjalan keluar hotel, dengan mengenakan kaos dan celana pendek, dan tubuh penuh dengan krim anti nyamuk rasa jeruk membuat saya merasa aman untuk jogging. Jogging saya pun harus terhenti sebentar saat saya keluar hotel, dan ingin lari sepanjang jalan raya yang menuju ke arah Jayapura. Saya melihat sekumpulan orang yang memenuhi jalanan, namun karena saya agak sedikit ragu untuk lewat, saya memutuskan untuk kembali ke hotel. Berniat untuk sarapan, tetapi oh tetapi, agak sedikit kaget ketika menu yang ditawarkan cuma satu: Roti bakar, selai dan mentega, Kopi dan teh.

Bapak saya dan saya pun kaget ketika mengetahui menu yang ditawarkan cuma satu macam, dan ternyata kami pun diberi tahu bahwa model-model hotel bintang 3 ke bawah di Papua cuma menawarkan menu seperti ini. Dan lucunya lagi harga room rate yang ditawarkan tidak jauh beda dengan Swiss Belhotel yang ada di Jayapura tetapi dengan fasilitas yang lebih dibandingkan di tempat hotel saya menginap. Bandingkan, ketika saya membooking untuk Swiss Belhotel room rate yang ditawarkan untuk kamar deluxe – twin Rp. 1,125,000,- dan kamar Deluxe Hotel Sentani Indah Rp 1,069,000,-. Kami memutuskan untuk tinggal di Sentani karena berbagai macam pertimbangan yaitu lokasi. Karena kami bukan untuk liburan melainkan menghadiri acara di Sentani sehingga kami lebih baik tinggal di Sentani.

Sentani Neighborhood

Setelah breakfast saya pun bersiap – siap untuk berangkat menuju rumah saudara saya yang sedang bersiap – siap untuk acara siang ini. Acara pemberkatan akan diadakan di Gereja Sang Penebus Sentani, dan acara resepsi akan diadakan di aula gereja katolik Sentani, tidak jauh dari Gereja Sang Penebus. Gereja Sang Penebus Sentani ini merupakan tempat nostalgia Bapak dan Ibu saya yang dulu menjadi anggota paroki disini. Setiap sabtu dan minggu menghabiskan waktu di Gereja untuk misa dan aktivitas Gereja, bahkan Ibu saya sudah terkenal sejak dahulu, adalah wanita pendatang yang berani naik sepeda onthel dari rumah Sentani ke Pasar Sentani. Waktu saya dikasih tau dimana rumah Bapak Ibu dulu, dan letak Pasar Sentani, lumayan jauh juga.

Rumah Bapak Ibu jaman Bahela sekarang sudah jadi Bank Irian

Setelah melewati runtutan acara yang cukup lama, dari pagi sampai siang hari, tiba – tiba Mas Arya menawarkan saya “Mas, mau main ke tower Sentani? mumpung belum tutup jam stengah 5 sore nanti”, saya yang tadinya letih tiba – tiba jadi bersemangat. “Mau!” Bapak saya geleng – geleng aja.. “Dik, balik ke hotel deh, ngapain sih ke tower, iseng amat?”, wah saya langsung ngebales “Aduh pak, belom pernah ke tower, masa anak pilot belom pernah ke tower, haha” kata saya bercanda, akhirnya Bapak saya pun mengiyakan dan kita berhenti di Airport Sentani sejenak. Bapak dan Ibu saya menunggu di mobil. Begitu naik ke atas menggunakan elevator, pemandangan langsung mendadak bagus. Apron Pesawat. Dan setelah foto – foto saya berbincang – bincang dengan petugas ATC Sentani yang hanya 2 orang.

Setelah mengunjungi ATC saya beralih ke Apron, disini saya melihat sebuah pesawat Deraya mendarat, dan sebuah pesawat Merpati yang baru datang dari Merauke.

Waktu pun semakin sore, saya langsung dipanggil Bapak saya untuk pulang ke hotel, karena kita masih memiliki rencana untuk mengunjungi Mc Arthur Monument Park yang terletak diatas bukit. Monument ini menandakan tempat pendaratan panglima perang dunia kedua, Mc Arthur. Perjalanan menuju Mc Arthur Monument Park yang terletak di Ipar Gunung, memakan waktu hanya 30 menit dari hotel kami. Perjalanan menuju ke puncak bukit sungguhlah seru, saya melihat kompleks Ipar Gunung yang merupakan kompleks militer sangat aman dan tertata rapi.


Dari puncak Ipar Gunung ini kita dapat melihat pemandangan seluruh Danau Sentani yang sangat Indah. Begitu saya naik ke tempat ini saya mengucap syukur betapa indahnya pemandangan dari sini. Bumi Papua sungguh indah, dan sangat layak untuk dikunjungi. Rupanya, di area ini sering digunakan para tamu untuk berkemah dan melakukan aktifitas outbound. Well, mungkin di lain waktu saya dapat memiliki kesempatan untuk berkemah disini.


Setelah dari Mc Arthur monument park, kita turun kembali ke Sentani, kali ini mas Arya akan mengajak kami mengunjungi Danau Sentani. yang terletak di belakang runway persis tempat Runway Lights, VOR dan NDB yang berguna bagi navigasi pesawat yang hendak mendarat di Bandara Sentani.

Tempat ini benar – benar salah satu tempat favorit saya, sayang matahari sudah hampir tenggelam, sehingga kami tidak bisa pergi lama – lama, dan kami benar – benar berada di tengah padang ilalang setinggi pundak saya, dan saya harap tidak ada nyamuk malaria gigit saya he..he..he. Dan saat kita berjalan menuju mobil, saya pun melihat penduduk lokal yang tinggal di pulau seberang Danau Sentani, ternyata mereka sudah terbiasa bolak balik dengan menggunakan sampan.

Kasihan kalau melihat mereka yang hidup secara tradisional seperti ini.. tetapi saya belajar dari mereka yaitu kegigihan, kemauan untuk bertahan hidup. Saya bertanya kepada Ibu berbaju biru, “Bu, tidak takutkah menyebrang malam – malam begini? Jauh lho keseberang?” Ibu itu hanya tersenyum, “Kitorang trada pernah takut, su biasa” katanya. “Ya sudah Bu, hati – hati ya..” kata saya. Ibu itu melambaikan tangan, sambil berkata “Terima Kasih, sampai jumpa lagi”. Dalam hati saya berdoa agar keluarga kecil ini selamat sampai di rumah.

Begitu banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari kunjungan saya ke Jayapura ini. Disini saya melihat bahwa kota ini perlu sebuah pengembangan yang sangat konsisten untuk menjadikan Papua sebuah daerah yang maju tidak hanya Jawa saja yang menjadi pusat kehidupan di Indonesia. Papua merupakan daerah Indonesia yang belum terjamah, dan kita sebagai putra – putri Indonesia harus mendukung proses pengembangan wilayah ini.

Saya tidak menyesali kunjungan saya kesini, karena disini saya setidaknya dapat mempelajari walaupun sedikit yang saya dapat mengenai kehidupan di luar pulau Jawa, serta mengetahui dari kacamata pendatang bagaimana hidup di Papua. Jayapura bisa maju karena ada beberapa suku pendatang yang turut mengembangkan wilayah ini seperti orang Makassar, Manado, Jawa, Batak, dan Bugis.

Sentani dan Jayapura merupakan sebuah pengalaman baru bagi saya, dan mungkin masih banyak memori yang saya ingat tetapi belum tertulis dalam cerita ini. Tetapi satu hal yang pasti adalah, saya berjanji untuk kembali, saya bercita – cita mau mengajak anak – anak saya mengunjungi Biak, dan Jayapura suatu saat nanti.

Standard

5 thoughts on “(Hanya) Tiga Hari Dua Malam di Sentani, Jayapura

  1. Ambar Siregar says:

    take me there! :) ingin sekali bisa traveling more within Indonesia :) beautiful Nang, thank you for sharing :)

    • Kleopas Danang says:

      oh sure you’re welcome mba Ambar :) I already miss Sentani a lot, I really enjoyed the warm hospitality I received there. :) and as I told many times, I repeated “How great thou art” whenever I saw Danau Sentani.. :)

    • Kleopas Danang says:

      Terima kasih mas Denny atas commentnya. Ini hanya sebagian kecil dari Papua.. Masih ada Biak, Wamena, Merauke yang pastinya sangat lebih indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s