Aviation, My Life

Lost for another Indonesian Senior Pilot: Good Bye Grandpa..

Jakarta, 6 March 2011. 10:56 pm. Perawakannya yang gagah, tatapan matanya yang tajam, dan lesung pipitnya yang memikat, ya, itulah gambaran eyang saya tercinta, yang adalah seorang penerbang senior Indonesia, Capt. R. Johannes Berchman Shady Sasmito.

Tulisan ini, memang sengaja saya buat, guna mengenang Almarhum eyang saya yang baru saja dipanggil Tuhan YME kemarin pagi. Bukan maksud menjadi overproud, tetapi saya hanya ingin berbagi kebanggaan saya kepada beliau.

Eyang saya memang bukan orang luar biasa, tetapi saya selalu mengikuti setiap ‘chapter’ cerita hidup dan pekerjaannya yang selalu diceritakan kepada anak dan cucu-cucunya. Dari ke 12 cucu, mungkin saya-lah yang paling tertarik mendengar ceritanya dan tidak pernah bosan walaupun sering diceritakan berulang kali.

Eyang punya kebiasaan sama dengan ayah saya, dulu waktu saya kecil, bapak saya selalu menemani saya sebelum tidur bersama dengan mainan pesawat yang dibelinya, lalu menirukan suara layaknya mesin pesawat take-off dan landing, saya selalu ingat ayah saya selalu bilang ‘Pesawat itu kalau mendarat roda belakangnya dulu dik,”. Eyang saya pun sama, walaupun dari kecil memang tidak tinggal serumah, namun eyang saya selalu bercerita mengenai pengalaman terbangnya, apalagi dahulu ia selalu bilang “eyang dulu menerbangi 12 pesawat selama eyang menjadi pilot, pesawat yang paling eyang suka adalah Convair Coronado” . Saya pun selalu fokus menyimakinya.

Eyang saya adalah penerbang angkatan pertama Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, bersama beberapa penerbang lainnya. Beliau pun dahulu memiliki hubungan baik dengan Alm. Capt. Wiweko, mantan Presiden Direktur PT. Garuda Indonesia. Pengalaman karir penerbang nya dimulai di Garuda Indonesia dan menjabat sebagai Captain senior sampai dengan tahun 1970, lalu pindah ke Airfast yang berdomisili di Singapura, dan Bouraq Airlines.

Apabila dibilang penerbangan sudah menjadi darah keluarga, saya akan menyetujuinya, setidaknya karir penerbang sudah terjaga untuk 3 generasi. Saya memang bukanlah seorang penerbang tetapi saya terkadang sering menempatkan diri untuk menjadi seperti mereka. Ya, secara tidak sadar. Bermula dari eyang-lah cikal bakal dinasti penerbang di mulai, dan dari eyang lah pula kami memiliki suatu relasi layaknya keluarga dengan para penerbang – penerbang senior lainnya; termasuk pula eyang lah yang memperkenalkan Ibu saya, anak perempuannya yang ketiga dengan Ayah saya yang dahulu memulai karirnya di Airfast Singapura sebelum masuk ke Garuda Indonesia.

Pesawat favorit, dan Perjalanan favorit

Topik ini akan selalu saya kenang sepanjang masa. Dari dahulu sampai terakhir saya bertemu beliau di Rumah Sakit 2 tahun lalu, eyang selalu bercerita mengenai pengalaman terbangnya. Omong-omong, Ingatannya sungguh kuat untuk seorang berusia diatas 70 tahun. Beliau pun terkadang masih suka mengajak saya berbicara dengan bahasa inggris ataupun bahasa belanda walaupun bahasa belandanya cuma bahasa simple tapi saya tetap menganggap sangat lucu dan berkesan.

Setiap eyang bercerita mengenai pengalaman terbangnya, mulai dari kecelakaan ringan sampai berat seperti hydrolic rusak saat landing, ataupun mengatasi turbulensi di udara, beliau sangat ingat sampai hal detail. Lalu, beliau selalu bercerita betapa bangganya beliau diberi kesempatan untuk menerbangkan pesawat mesin jet pertama yang dimiliki Garuda Convair 330A – Coronado, yang saat itu melayani rute Eropa, dan beberapa kali menjadi pilot penerbangan VVIP Presiden Soekarno. Eyang saya selalu meyakinkan saya, “Kamu tau Danang, Convair Coronado itu pesawat paling top” katanya sambil mengangkatkan jempolnya. Saya pun hanya tersenyum, terkadang saya bertanya, “Oh ya yang? Kaya gimana?” eyang pun menjelaskan lebih detail sambil kembali menceritakan dengan tiruan suara deru mesin pesawat.

Mengenai perjalanan favorit, eyang saya pernah berkata, semua penerbangan itu berkesan, karena eyang selalu melihat hal – hal baru. Selain terbang, eyang saya memiliki banyak sekali hobi artistik yang dijalaninya selama dinas atau waktu luangnya. Melukis, dan Fotografi. Bakat dan hobby melukisnya ditekuninya semenjak menjadi penerbang, dan bahkan sampai masa pensiunnya. Dahulu, saya ingat, ketika saya masih kelas 5 SD, saya sering membeli majalah Angkasa, dan saya pun yang memberi tahu kalau eyang saya masuk ke dalam salah satu artikel berjudul “Penerbang Pelukis” saya masih ingat dahulu eyang saya sempat memamerkan karyanya di salah satu pameran lukisan yang dihadir oleh Bapak Dhanutirto sebagai Menteri Perhubungan.

A Great pilot, A Great family man

Sebagai seorang ayah bagi 8 anak dan dengan mobilitas tinggi, eyang saya memiliki sense of fatherhood yang sangat baik. Eyang saya selalu mengajarkan untuk menjaga hubungan yang baik dengan istri dan anak-anaknya, terutama dalam mengatur waktu kebersamaan.

Saya masih ingat dulu waktu eyang putri saya masih ada, keluarga besar kami sangat sering mengadakan gathering, seperti kumpul – kumpul natal dan tahun baru, paskah, Jareg eyang bapak dan eyang putri, dimana semuanya kumpul terus. Namun, setelah eyang putri meninggal, rasanya kurang lengkap, terutama saat eyang kakung memutuskan untuk pindah ke Solo dan menghabiskan masa pensiun disana, kami hanya menjaga tradisi kumpul-kumpul tanpa Eyang bapak, dan semenjak itu kami pun sering berkunjung ramai-ramai ke Solo untuk bertemu eyang.

“Eyang adalah tipe orang yang senang bercerita, bergaul, berdiskusi, dikunjungi, dihibur, dan dibuat tertawa, sekarang saya tahu dimana sifat ini berasal…”

Banyak sekali kenangan yang kami punya bersama eyang. Bagi saya, semangat juangnya yang tinggi, dan kemampuannya yang beragam dan kreatif telah menginsipirasi saya. Apabila saya melihat foto-foto beliau dulu dengan seragam, bar 4 dan petnya, sungguh menggugah saya untuk menjadi seperti beliau.

Yah, biarlah Tuhan yang tahu kapan jawaban untuk semua itu. Saya mungkin dapat berencana, tetapi biar Tuhan-lah yang menjawabnya. Eyang selalu menyemangati saya dahulu, Ia selalu mengingatkan saya kalau mau terbang jangan tanggung, jadilah penerbang. Saya hanya sering tersenyum masam – masam, dan mengiyakannya.

Ketika kakak saya memutuskan untuk menjadi penerbang pun, eyang masih dalam keadaan sakit, tetapi saya tahu beliau pasti senang mendengar bahwa ada satu cucu yang akhirnya terpanggil untuk mengikuti jejaknya.

Yang terpenting sekarang adalah jiwanya telah tenang di surga. Biarlah jalan ini yang terbaik bagi diri eyang atas segala semangat dan daya juangnya melawan penyakit yang di deritanya. Kenangan indah dan berkesan dari eyang pasti tidak akan pernah kami lupakan. Terima kasih eyang, engkau memang tidak sempurna, tetapi pribadi mu yang rendah hati, ringan tangan, dan menginspirasi, membuatku bersyukur karena saya memiliki sebuah gambaran utuh terutama bagi tujuan hidupku.

So long Good Bye Eyang, Send my love for Eyang Putri in heaven.

Advertisements
Standard

10 thoughts on “Lost for another Indonesian Senior Pilot: Good Bye Grandpa..

  1. angela cintha says:

    RIP Eyang..
    @Danang : Turut berduka cita ya sayang..semoga Beliau mendapat tempat terbaik disisi-Nya.. Amiiin.. *peluk danang*

  2. Danang, aku mau nangis abis baca ini hehehe I believe he’s flying an airplane to heaven πŸ™‚
    Eyang kakung akan tetap menjadi pilot yg hebat di atas sana!
    Xoxo – sepupu jauhmu

    • Kleopas Danang says:

      Hi lisaaa thanks for your sympathy. I really believe so, he boarded his plane to heaven πŸ™‚ makasih banyak ya sayanggg

    • Kleopas Danang says:

      Good day Mas Andre, ah terima kasih atas koreksinya. Haha.. Iya saya selalu salah nyebutin nama pesawat ini dari kecil. Coronado πŸ™‚

    • Kleopas Danang B says:

      Hello mas Timur

      Wah terima kasih atas informasi yang diberikan dan ini adalah barang yang memang sudah Kami cari. Kalau boleh tahu mas Timur dapat darimana?

  3. Saya mengenal baik Om Sas. Karena salah satu anaknya yang bernama Kokos adalah sahabat saya sewaktu kami bersama di SMP Tarakanita Blok Q. Setelah pensiun dan tinggal di Solo saya sempat mengunjunginya. Waktu itu Om Sas mengajak saya ke kamar pribadinya utk melihat karya2 lukisnya. Dengan karakternya yang penuh humoris dia memberikan pertanyaan kepada saya :”Mengapa Bpk Soekarno jatuh cinta kepada Ibu Hartini?”. Jawabab dari pertanyaan itu masih saya ingat sampai sekarang. Ketika Om Sas sakit dan di rawat di RS Panti Rapih Jogja…saya pun sempat berkunjung ke dalam kamarnya…

  4. Pingback: Ibu dan Bapak: Inspirator Terbesar | amabella21

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s